#2
Suatu mimpi
aneh datang pada malam dimana aku sangat merindukan matamu, mimpi melihat
sekumpulan makhluk berjalan lambat mengelilingiku. Sampai terlihat dengan jelas
wajah penuh api dan amarah yang kuketahui makhluk tersebut berasal dari hutan
yang sering kurapal batang-batang damarnya yang penuh dengan lumut yang basah.
Lalu aku terbangun dari mimpi aneh pukul 12 malam yang sulit kumaknai setiap
adegannya. Seketika aku merasa di tikam oleh perkara-perkara duniawi yang kotor
segala yang harus ditinggalkan secepat mungkin sebelum dosa-dosa menjadi kultus
semesta dan menodai malam-malam kita yang suci. Lalu di luar jendela kamar ku
terlihat sebuah pemandangan bahwa malam sedang merindukan ibu bulan yang
datangnya hanya sesekali dan mustahil malam dapat memeluknya semaunya. Tapi
perkara rindu malam memang cukup menyulitkan namun kemanjaan malam sebuah
kenikmatan bagi ibu bulan. Malam tidak dapat berhenti merindukan ibu bulan yang
sedang asyik mabuk dalam gelap awan, mabuk oleh segelas anggur perawan yang tak
tersentuh tangan manusia. Lalu ibu bulan tidak pernah kelihatan bosan hari demi
hari melupakan waktunya bersama awan karena ibu bulan sudah menggantungkan
sebuah pernak-pernik pada tubuh malam yang polos. Sekarang yang dilakukan ibu
bulan adalah mencemaskan tubuh malam yang sakral dan tak ingin di manipulasi
oleh makhluk lain. Karena ibu bulan lah yang sudah setia memangku pada saat
malam menjadi penuh kabut dan muram. Ketika malam dan ibu bulan sudah tidak
memiliki banyak waktu, saat pagi buta datang dan membuat ngilu tulang-tulang
rusuk saat itu rindu malam dan ibu bulan harus di tuntaskan dan berengseknya
bahwa mereka tidak menyadari bahwa rindu tidak akan pernah tuntas sampai pada
malam-malam berikut, menjadi semakin tinggi dan subur ditanah yang gembur
diguyur hujan dari sepasang bola mata manusia.
Maka atas ibu
bulan yang tidak dapat menahan malu pada rindunya, serta mimpi aneh pada malam
yang bingung. Lekatkanlah tubuhmu pada dinding-dinding punggung dan dadaku yang
berpendar, kau tahu hangatnya melebihi matahari sore dan segelas teh yang di seduh
oleh perempuanmu kala itu. Dalam hidupku tidak ada yang bermakna, sampai ada
kamu saat ku dengar sebuah lantunan tembang yang sangat kusukai alunannya. Seperti
masa kehamilan seorang ibu, ibu telah melahirkan sebuah anak kegembiraan yang
menenggarai seisi semesta menjadi penuh keriaan di tengah hutan yang dulunya
dingin, sedingin mata seorang ibu yang ditinggal mati putrinya. Namun segala
kecanduan ini jangan membuat kita berlaku seperti sepasang domba yang mabuk dan
tersesat ditengah padang ilalang menanti diterkam malapetaka. Semoga tidak
adalagi hujan yang terguyur pada sepasang mata perempuan yang disebut kafir karena
telah menemukan tempat pulang selain pada tuhannya.
Komentar
Posting Komentar