Rumah


Dia masih tak bergerak dari kasurnya, mengatup sepasang bola bersama lentik bulu matanya. Dia begitu teduh, seperti seorang bayi yang tak pernah membaca kehidupan. Dia begitu putih, seperti inilah hari pertamanya. Dia seperti Rumah, memiliki jiwa, memiliki cerita dan menghidupkan seisinya dengan nafasnya.



Belakangan ini, rumah itu memudar. Cat nya luntur, dindingnya terkelupas, gentingnya menguap, daun dan debu berserakan di pekarangan. Dengan perasaan sedikit ganjil, aku mulai mengurus daun-daun di pekarangan. Pekerjaan yang tak biasa kulakukan.

Sungguh jendelanya tak pernah selapuk itu, dengan kayu yang setengah dirayapi, menyisakan luka pada sisi-sisinya. Daun pintunya yang basah, memberiku sinyal, “apa rumah telah menangis semalam suntuk hingga menembus dinding dan pintunya yang lembab.”

Saat pintunya terbentang, tak ada yang lebih mengerikan dari pada melihat kekosongan yang terasa hingga ke ujung nadi. Tak kulihat lentiknya bulu matamu, harum tubuh manusiamu yang tak pernah berubah, kaos oblong yang penuh sobekan di leher. Ku hanya melihat ruang lowong yang berantakan.

Ku tak melihat rumah seperti rumah yang dahulu. Tempat berpulang, tempat menaruh
bunga-bunga yang kupetik saat musim semi. Ruang untuk mengistirahatkan kepala
dan memandangnya dalam jarak sepuluh centimeter. 

Mereka yang memakai kostum, dan memakai topeng. Orang-orang yang tak kukenali.
Telah menghilangkan peta tubuhku di rumahku, tak menyisakan sedikit helai rambut atau
bulu mata di atas ranjang. Semua telah tergantikan, dan semua telah dikosongkan.

Rumah itu tetap berpenghuni, tetap riuh dan ramai di dalam kepala. Tapi telah dihuni oleh orang-orang yang sudah tak kukenali lagi. Aku menangis sederas-derasnya.

SC/9/1/2019


Komentar

Postingan Populer