Sebuah Kebanalan
Pagi ini harumnya masih sama, saya terbangun dengan rutinitas yang begitu saja. Dimulai dengan kesenangan singkat yang membuat badan sedikit bergetar lalu melakukan sebuah ritual yang seperti penebusan dosa atas malam dan hari kemarin di sebuah kamar mandi lusuh dengan air pancuran yang lapisannya hampir karatan. Lalu bersiap-siap memilih baju mana yang pantas dikenakan hari ini agar tersembunyi lekukan yang hanya akan kuberikan pada manusia yang mencintai seisi diri.
Saya berikan cap bibir ini dengan warna merah marun agar semakin gelaplah diri ini. Kenapa tidak hitam? Marun adalah kegelapan yang romantis, Gelap yang perlahan. Lalu persiapan tidak berlangsung lama, hanya cukup terlihat pantas dan sedikit wangi, Pergi ke stasiun, bertemu teman lama, lalu mencoba rute berbeda untuk ke kantor. Jalanan lebih humanis dari halte dukuh atas 1 dibanding halte cawang yang menggila. Kegilaan jalanannya disponsori oleh pembuatan flyover yang pengerjaannya menutupi bahu jalan. Jakarta oh jakarta, jalanmu lebar saja macet masih di sana & sini apalagi jika dipersempit. Ya tapi hal itu yang memang ditelan bulat-bulat oleh semua orang yang menaruh sesuatu pada kota ini.
Kantor sepi, semua lelah, semua masih tidur, sisa begadang semalam. Untuk menyenangkan hati klien dan mencari sedikit kepuasan dari apa yang sudah mereka selesaikan. Apakah manusia sebanal itu? Kehidupan diisi dengan hal-hal yang monoton. Walaupun mungkin saya akan diteriaki karena terkesan mengeluh melulu. Semua orang punya tujuannya masing-masing, tak perlu sibuk mengurusi. Tapi hal itu masih mending selain kawin dan beranak yang menurutku lebih banal dan monoton.
Atau dibanding saya yang lebih ba(i)nal, pagi-pagi membaca sebuah Alkitab yang saya dapatkan dari seorang teman di kantor, yang tadinya saya kira adalah sebuah kumpulan puisi dari banyak anonim. Saya menikmati membaca Alkitab seperti membaca sebuah puisi. Entah di dalamnya sebuah fiksi atau nonfiksi. Membaca itu tidak terbatas, membaca adalah sebuah bagian dari kebanalan hari-hari saya. Yang tidak banal hanya yang saya baca atau beberapa yang saya baca lebih banyak yang banal daripada berisi.
Saya jadi meyakini hidup memang berisi hal-hal banal atau sebenarnya hanya kita yang sangat menjemukan. Menutup semua hal menyenangkan dan hal-hal vivid di sekitar kita.
Saya berikan cap bibir ini dengan warna merah marun agar semakin gelaplah diri ini. Kenapa tidak hitam? Marun adalah kegelapan yang romantis, Gelap yang perlahan. Lalu persiapan tidak berlangsung lama, hanya cukup terlihat pantas dan sedikit wangi, Pergi ke stasiun, bertemu teman lama, lalu mencoba rute berbeda untuk ke kantor. Jalanan lebih humanis dari halte dukuh atas 1 dibanding halte cawang yang menggila. Kegilaan jalanannya disponsori oleh pembuatan flyover yang pengerjaannya menutupi bahu jalan. Jakarta oh jakarta, jalanmu lebar saja macet masih di sana & sini apalagi jika dipersempit. Ya tapi hal itu yang memang ditelan bulat-bulat oleh semua orang yang menaruh sesuatu pada kota ini.
Kantor sepi, semua lelah, semua masih tidur, sisa begadang semalam. Untuk menyenangkan hati klien dan mencari sedikit kepuasan dari apa yang sudah mereka selesaikan. Apakah manusia sebanal itu? Kehidupan diisi dengan hal-hal yang monoton. Walaupun mungkin saya akan diteriaki karena terkesan mengeluh melulu. Semua orang punya tujuannya masing-masing, tak perlu sibuk mengurusi. Tapi hal itu masih mending selain kawin dan beranak yang menurutku lebih banal dan monoton.
Atau dibanding saya yang lebih ba(i)nal, pagi-pagi membaca sebuah Alkitab yang saya dapatkan dari seorang teman di kantor, yang tadinya saya kira adalah sebuah kumpulan puisi dari banyak anonim. Saya menikmati membaca Alkitab seperti membaca sebuah puisi. Entah di dalamnya sebuah fiksi atau nonfiksi. Membaca itu tidak terbatas, membaca adalah sebuah bagian dari kebanalan hari-hari saya. Yang tidak banal hanya yang saya baca atau beberapa yang saya baca lebih banyak yang banal daripada berisi.
Saya jadi meyakini hidup memang berisi hal-hal banal atau sebenarnya hanya kita yang sangat menjemukan. Menutup semua hal menyenangkan dan hal-hal vivid di sekitar kita.

Komentar
Posting Komentar