Kelesa
"Kelesa jangan sampai menggerogoti hari. Kelesa pergi jauh dari kerongkongan hati".
Doa yang sepertinya secara tidak langsung saya panjatkan setiap hari. Doa untuk tidak terbujuk oleh kemalasan diri. Tapi setiap hari ada waktu dimana kelesa mampir. Membuat diri yang tadinya bersemangat jadi penuh kepasrahan. Pasrah itu baik kalau sesuai takarannya, menjadi bencana jika pasrah ini melaku sebagai batasan diri untuk tidak melakukan sesuatu.
Tapi saya manusia macam itu, yang masih sering memasrahkan sesuatu pada kondisi yang tidak menentu. Masih manja dengan kemalasan, manja dengan situasi, manja dengan sekeliling, manja dengan permasalahan. Kemalasan dan rasa manja menghasilkan sebuah ramuan beracun yang bernama keluhan. Keluhan jadi baik jika disampaikan pada orang yang tepat & jadi racun jika diulang-ulang lalu dibagi pada orang yang salah.
Setiap saya merasa seperti itu atau mengalaminya, saya merasa dekadensi dalam diri saya meningkat. Memalukan dan menjijikan. Saya merasa menjadi makhluk langlai dan tidak pandai bersyukur jika hari abu-abu menjadi milik kelesa. Tapi ketika kemalasan hadir pada waktu yang pantas, saya yakinkan kemalasan adalah sesuatu yang berkelas. Lagi-lagi saya melantur.
Doa yang sepertinya secara tidak langsung saya panjatkan setiap hari. Doa untuk tidak terbujuk oleh kemalasan diri. Tapi setiap hari ada waktu dimana kelesa mampir. Membuat diri yang tadinya bersemangat jadi penuh kepasrahan. Pasrah itu baik kalau sesuai takarannya, menjadi bencana jika pasrah ini melaku sebagai batasan diri untuk tidak melakukan sesuatu.
Tapi saya manusia macam itu, yang masih sering memasrahkan sesuatu pada kondisi yang tidak menentu. Masih manja dengan kemalasan, manja dengan situasi, manja dengan sekeliling, manja dengan permasalahan. Kemalasan dan rasa manja menghasilkan sebuah ramuan beracun yang bernama keluhan. Keluhan jadi baik jika disampaikan pada orang yang tepat & jadi racun jika diulang-ulang lalu dibagi pada orang yang salah.
Setiap saya merasa seperti itu atau mengalaminya, saya merasa dekadensi dalam diri saya meningkat. Memalukan dan menjijikan. Saya merasa menjadi makhluk langlai dan tidak pandai bersyukur jika hari abu-abu menjadi milik kelesa. Tapi ketika kemalasan hadir pada waktu yang pantas, saya yakinkan kemalasan adalah sesuatu yang berkelas. Lagi-lagi saya melantur.
Komentar
Posting Komentar