TAMAN
Aku mengingat sebuah taman, Varsailles di Prancis. Taman yang begitu rapi, ditumbuhi bunga-bunga matahari, membuatnya sampai hadir dalam sebuah mimpi yang tak kunjung putus.
Di depan taman itu, seorang penjual lukisan dengan wajah tertunduk dan topi menutupi setengah mukannya pernah berkata: Taman adalah sumber pikiran. Jika kau rawat, kau sirami dan berikan pupuk, ia akan subur dan tumbuh menjadi berkah. Sebaliknya, jika kau biarkan racun, dan hama bersarang, akan tercabut batin dan akalmu.
Di depan taman itu, seorang penjual lukisan dengan wajah tertunduk dan topi menutupi setengah mukannya pernah berkata: Taman adalah sumber pikiran. Jika kau rawat, kau sirami dan berikan pupuk, ia akan subur dan tumbuh menjadi berkah. Sebaliknya, jika kau biarkan racun, dan hama bersarang, akan tercabut batin dan akalmu.
Dan, seperti itulah beberapa manusia mengibaratkan manusia lainnya,
layaknya sebuah Taman. Taman di antara selangkangan, taman yang permai, dirawat dan dipugar
akan menjadi taman firdaus dengan keagungan yang abadi. Sebaliknya, taman tak berpagar,
dihiasi jejak-jejak pengunjung, akan dicela.
layaknya sebuah Taman. Taman di antara selangkangan, taman yang permai, dirawat dan dipugar
akan menjadi taman firdaus dengan keagungan yang abadi. Sebaliknya, taman tak berpagar,
dihiasi jejak-jejak pengunjung, akan dicela.
Sampai kapan kita memandang taman sebatas pikiran? Yang berisi bunga bermekaran dan heharuman?
Bukankah kumpulan kaktus berduri berbunga di ujung-ujung tangkainya juga lah layak ada di sebuah taman?
Bahkan ilalang sempat menjadi taman?
Aku rasa, saatnya kita berhenti mengibaratkan manusia bagaikan sebuah “sesuatu”,
kata yang menyatakan sebuah benda. Atau wanita ibarat barang. Atau wanita ibarat perhiasan. Atau laki-laki
ibarat pedang, atau laki-laki ibarat imam.
Bukankah kumpulan kaktus berduri berbunga di ujung-ujung tangkainya juga lah layak ada di sebuah taman?
Bahkan ilalang sempat menjadi taman?
Aku rasa, saatnya kita berhenti mengibaratkan manusia bagaikan sebuah “sesuatu”,
kata yang menyatakan sebuah benda. Atau wanita ibarat barang. Atau wanita ibarat perhiasan. Atau laki-laki
ibarat pedang, atau laki-laki ibarat imam.
Jika isi kepalamu selalu seperti itu, egomu takkan sanggup menuntaskannya.
SC/9/4/2019
Komentar
Posting Komentar