Sebuah Opini, Kamu jangan baper
" Perempuan Sebagai
Object Dalam Sebuah Industri Pariwara”
Yang
kita bicarakan pada tulisan ini adalah sebuah industri yang dengan baik hatinya
mempromosikan atau memperindah sebuah citra brand dengan sebuah ide segar agar
dapat meningkatkan brand image dan market share dari brand tersebut. Saya rasa
tidak ada yang lebih sederhana dan lebih pantas untuk menyebut Industri
Periklanan tersebut dengan pengertian semacam itu. Lalu hubungan antara
Perempuan dalam sebuah industri pariwara adalah sangat kental karena hampir
setiap saat kita melihat sebuah iklan di televisi, media cetak ataupun media
luar ruang selalu di hadiri sesosok figur perempuan yang entah memegang peran
yang signifikan pada iklan tersebut atau hanya di jadikan symbol dari sebuah
keindahan yang dapat membuat iklan tersebut memiliki daya tarik yang terkadang melebihi
dari fokus pada produk yang ditawarkan oleh iklan itu sendiri.
Hal
tersebut menjadikan perempuan seringkali dalam sebuah iklan di sematkan hanya
sebagai simbol-simbol estetika yang di ada-adakan untuk mengambil perhatian
dari target sasaran produk atau brand yang di iklankan. Di lihat dari
perspektif para praktisi industri periklanan tentang hal tersebut tidaklah
menjadi sebuah kontra karena peran perempuan memang di butuhkan untuk mendukung
dari citra brand tersebut. Namun saya merasakannya sendiri seluruh problematika
tersebut, di antara perspektif feminitas dan kebutuhan industri periklanan acap
kali memunculkan pro dan kontra. Walaupun pada masa sekarang sudah ada iklan-iklan
yang menaikan citra perempuan menjadi tidak hanya sebagai seorang yang
mengurusi dapur, menjadi pelayan bagi seorang pria dan sebagai simbol pencetak
manusia-manusia baru.
Namun
pada sesi-sesi feminis iklan tetap dianggap bersifat menjatuhkan nilai
perempuan itu sendiri. Karena pada sebuah iklan perempuan sering di gambarkan
dengan hubungannya terhadap produk-produk domestik sehingga melemahkan keotonomannya.
Membuat perempuan lagi-lagi menjadi pihak kedua dalam sebuah industri pariwara.
Contohnya seperti penempatan perempuan pada sebuah iklan pembersih toilet,
sangat domestik! Hal tersebut seperti sama tidak dapat dipungkirinya dalam Seni
rupa bahwa mitos perempuan sebagai subjek seni kalah besar dibandingkan
perempuan sebagai objek seni itu sendiri. Kembali lagi pada sebuah pariwara,
Iklan terkadang menyajikan citra perempuan secara semena-mena, yang penting
agar tujuan dari sebuah bisnis bisa tercapai dan cara yang paling ampuh sering
kali adalah dengan melakukan eksploitasi tubuh dan menawarkan hal-hal manis
yang sangat keperempuanan.
Dari
fenomena ini dapat dilihat bahwa perempuan masih dijadikan sebagai objek
sensualitas dan kelemahan dibanding maskulinitas seorang laki-laki. Industri
Pariwara secara objektif pada sebuah iklan seperti tanpa sadar memberikan
kesenjangan terhadap kesejajaran perempuan dan laki-laki. Bahwa iklan-iklan
yang sangat domestik ataupun mengarah pada pengeksploitasian tubuh perempuan.
Hal tersebut melanggengkan kekuasaan laki-laki atas tubuh seorang perempuan.
Maka jangan jadi sebuah pariwara menjadi media untuk mematenkan ketidak
berdayaan seorang perempuan di mata publik. Lagi-lagi visualisasi pariwara
menggambarkan perempuan sebagai objek yang lemah dan tidak memiliki kuasa atas
dirinya. Iklan sangat dapat mempengaruhi opini publik. Jika iklan selalu
menampilkan sebuah perbandingan antara perempuan dan laki-laki berbeda dan
selalu tidak seimbang, lalu nilai-nilai ekploitasi atas kesensualitasan tubuh
seorang perempuan membuat masyarakat akan terbentuk untuk mempercayai hal-hal tersebut
dan menyuburkan kepatriarki-an dalam sebuah industri.
(source : Behance)
Photo by Clara Giaminardi
csharah
10 juni 2016

▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬
BalasHapusSebuah opini yang sangat menarik.
Ya bisa dikatakan ini juga bentuk lain dari dunia ads yang kurang berinovasi untuk lebih membangun nama sebuah brand daripada sekedar iklan yang menempel di kepala :)
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬