Nyatamu Palsu
Suatu pagi dimana aku tak mencium bau kopi,pasti tak kudapatkan ketenangan pada hari ini
Entahlah ini bukan puisi tentang pemerintah dan politik
Bukan pula rasa kebencian terhadap sesama
Hanya didunia tidak ada lagi yang dapat di percaya,setiap orang hanya memilih antara yang ia suka ataupun tidak,lalu membuangnya.
Mempercayai orang lain sama dengan membakar diri
Membakar diri hidup hidup disiang bolong
Hutan di otak mengakar sampai tulang rusuk,memberi peringatan bahwa tak ada manusia yang benar benar tulus melakukan sesuatu
Kedamaian hanya ada dalam rahim ibumu.
Namun tak usah dipikirkan kepalsuan yang meliuk liuk di tubuhmu itu
Palsu memang berderu keras disini,sudah menjadi kemumpunan
Teruslah menipu diri
Teruslah menari dalam paradok
Teruslah pakai bedak tebal
Teruslah memainkan lidah
Lakukan sesuka hatimu sampai lesu lalu muntah sendiri
Entahlah ini bukan puisi tentang pemerintah dan politik
Bukan pula rasa kebencian terhadap sesama
Hanya didunia tidak ada lagi yang dapat di percaya,setiap orang hanya memilih antara yang ia suka ataupun tidak,lalu membuangnya.
Mempercayai orang lain sama dengan membakar diri
Membakar diri hidup hidup disiang bolong
Hutan di otak mengakar sampai tulang rusuk,memberi peringatan bahwa tak ada manusia yang benar benar tulus melakukan sesuatu
Kedamaian hanya ada dalam rahim ibumu.
Namun tak usah dipikirkan kepalsuan yang meliuk liuk di tubuhmu itu
Palsu memang berderu keras disini,sudah menjadi kemumpunan
Teruslah menipu diri
Teruslah menari dalam paradok
Teruslah pakai bedak tebal
Teruslah memainkan lidah
Lakukan sesuka hatimu sampai lesu lalu muntah sendiri
Komentar
Posting Komentar